Pernyataan Dibuat Oleh: Sultan Junjungan Sakti Yang Dipertuan Ke 27

Bandar Lampung | Berbicara masalah adat, adalah berbicara masalah identitas, berbicara masalah budaya, berbicara masalah kebiasaan masyarakat sehari-hari secara terus-menerus/continue dari jaman dahulu kala sampai dengan saat ini yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan negara, artinya adat itu adalah tentang tradisi kepatutan yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat lokal sampai dengan saat ini khususnya di Provinsi Lampung. Di Paksi Pak Sekala Brak khususnya Kepaksian Belunguh itu tidak ada sebutan Paduka Yang Mulia, yang ada itu adalah Puniakan Beliau, ini perlu untuk kita luruskan karena kita ini memiliki tanggung jawab moral dalam melestarikan budaya ini, tidak juga kita menjadi besar dengan mengarang-ngarang ataupun mengada-ngada dalam adat ini, apa adanya saja.

Saya akan jelaskan tentang Panggilan/Petutukhan untuk Saibatin Paksi yang tercatat di Lamban Gedung sebagai pedoman untuk anak cucu dikemudian hari yaitu :

  • Anak kandung memanggilnya Akan Dalom
  • Anak sekebuaian memanggilnya bapak dalom
  • Cucu-cucunya memanggilnya tamong dalom / kajong dalom
  • Adik-adiknya memanggilnya Pun Beliau atau Puniakan Beliau
  • Paman-Pamannya memanggilnya anak dalom
  • Orang-orang berpangkat yang usianya lebih tua memanggilnya Adik Dalom
  • Istri-istrinya memanggilnya Puniakan Beliau
  • Masyarakat banyak dalam sekebuaian memanggilnya Puniakan Beliau

Petutukhan Ratu Paksi :

  • Anak kandung memanggilnya Mak/Ibu/Incik
  • Anak sekebuaian memanggilnya ina dalom
  • Cucu-cucunya memanggilnya tamong dalom / kajong dalom
  • Adik-adiknya memanggilnya Incikwo
  • Paman-Pamannya memanggilnya anak dalom/ anak Ratu
  • Orang-orang berpangkat yang usianya lebih tua memanggilnya Adik Dalom/ adik Ratu
  • Orang-orang berpangkat yang usianya lebih muda memanggilnya kaka ratu
  • Madu-madunya memanggilnya Puniakan Ratu
  • Masyarakat banyak dalam sekebuaian memanggilnya kaka ratu.

Sebelumnya: Saibatin Paksi Pak Sekala Brak, Kepaksian Belunguh: “Adat harus dilestarikan, adat harus dijaga, adat harus diluruskan” (Part 1)

Sekali lagi ini perlu saya sampaikan agar tidak ada lagi kesalahan-kesalahan dikemudian hari dalam penyebutan nama, gelar ataupun panggilan.

Sedangkan untuk Kedudukan adat di Kepaksian Sekala Brak khususnya Kepaksian Belunguh ada 5 tingkatan yaitu :

  1. Saibatin
  2. Suku
  3. Anak mentuha
  4. Penggawa
  5. Paku sakha

Sangatlah keliru apabila orang menganggap bahwa Suttan/Pangeran/Dalom, Raja, Batin, Khadin, Minak, Kiemas dan Mas adalah kedudukan di dalam adat, karena ini hanyalah merupakan gelaran baik mengikuti kedudukan maupun karena jasa-jasanya dengan masyarakat adat.

Gelaran adat tersebut merupakan pangkat didalam adat yang didapatkan dengan melalui prosesi-prosesi adat tertentu baik itu melalui prosesi lulus kawai maupun melalui prosesi angkon muakhi dan setelah prosesi itu dilaksanakan maka sifatnya adalah simbangan atau warisan untuk diturunkan kepada anak keturunan tertua laki-laki.

Sedangkan Kedudukan dari Paksi Pak Sekala Brak itu sendiri baik itu Paksi Belunguh, Paksi Pernong, Paksi Nyerupa, dan Paksi Bejalan Diway adalah sama, yaitu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *